31 December 2010

1 out of 365

Still one day left in 2010 and people are so busy with organising the New Year’s Eve activities. They call some friends to arrange a local trip or will be having a nice dinner with the family. Everyone is getting so excited yet panic at the same time. Either they are getting nervous with the Big Day or anxious if they will not spend a good time during the day.

It seems to be funny afterall. From three hundred sixty five days in a year, why people are so worried that they will not be happy on one day? Is it because it has been celebrated globally as the most important day of the year? Is it true or perceived to be true?

There goes one saying told me that sometimes we should think the opposite from what people always think. If they say that you have to turn right to get the fastest route on a trip, sometimes you will get the fastest one when you turn left instead. Now, if we are thinking hard of what we should do during the last day of the year, why don’t we think of what we have done during the other 364 days?

Nevertheless, there might be some arguments about living in the present and not dwelling in the past. So when you try to recall all happenings during the year, does it mean you just want to stay in your memories and be ignorant of your present time? If someone has the same thought, please forgive me that my belief is entirely the opposite.

Most of the time, people tend to look at the history for anything present. Let’s say, the investor might look at the chart of share price in order to predict the future share price and estimate the profit they would have earned by then. Or the accountant should look at prior working paper to see how a certain asset or liability should have been booked in order to keep being consistent.

So for argument sake, let’s assume that past is essential for present development. From the past, we learned and knew which one is good or bad, right or wrong. We grabbed the experience so that we can move forward and didn’t turn back to do the same mistake.

Life, I believe, is a continuos learning process. Along with the time continuously moving, people are expected to be more mature and experienced. Yet, can we make a generalisation for that statement? The answer is it depends on the human itself.

If we, as a human, can accept all mistakes we did in the past, all troubles we faced and most importantly, accept ourselves just the way we are, yes, we can be success of moving forward to the better way of life.

But, if we do not understand the importance of the past, we might not learn enough, then we just keep staying in the same hole, same problem and same suffering. Or even easier, we can simply blame others of the misery we would face in the future. Pointing fingers at the other people, cursing the corrupted government, bad weather, bad economy policy, etc. Blaming is much easier but you will never get out of your own problem.

So, if you do not really have anything to do on New Year’s Eve, why bother?

You can simply just sit, relax, think and learn from what happened during the other 364 days of 2010. Trust me, it is not an easy task to be done.

Happy New Year 2011. May all beings be happy and free from suffering.

13 December 2010

Jangan Takut Untuk Hidup Hari Ini

Hari Minggu adalah hari yang tepat untuk beribadah. Bahkan, di beberapa kitab suci disebutkan bahwa hari Minggu adalah hari istimewa bagi para umat beragama untuk menghadap Tuhan. Entah itu bener atau ngga, gue yakin ngga ada salahnya untuk melakukan kegiatan tersebut di hari Minggu. Bahkan mungkin, banyak manfaatnya.

Seperti hari Minggu kemaren, gue bersemangat untuk pergi beribadah untuk pertama kalinya di tanah air, kota kelahiran Jakarta, setelah beberapa tahun tinggal di negeri orang. Dan ternyata, hari itu memang jadi hari yang istimewa buat gue.

Disebutkan di dalam pembabaran agama pada ibadah hari ini, bahwa manusia pada umumnya sering mengalami kecemasan. Manusia sering merasa takut.  Dan lebih parahnya lagi, tingkat ketakutan manusia bisa mencapai sepuluh tingkat, menurut si pembicara. Sebenernya gue ga yakin dengan sepuluh tingkat ketakutan yang disebutkan, tapi gue percaya kalo manusia memang sering, bahkan selalu merasa takut.

Contohnya, diri gue sendiri. Gue sering ngerasa takut dengan hidup. Takut kalau hidup gue ga akan selalu bahagia, takut kalau gue tiba-tiba terkena penyakit serius, takut kalau gue ga punya cukup uang untuk bertahan hidup, dan lain sebagainya.

Hal ini kemudian terkait erat dengan dua fase kehidupan, yang boleh disebutkan telah menjadi sumber ketakutan manusia, yaitu masa lalu dan masa depan.

Ya, percaya atau ngga, manusia sering takut dengan masa lalunya sendiri. Gue yakin, kita sering merasa dihantui oleh kejadian-kejadian lampau. Kita sering merasa menyesal, atau paling ngga, sering terlintas di pikiran kita peristiwa-peristiwa di masa lalu yang mungkin telah membuat kenangan yang cukup berkesan, entah itu baik atau buruk.

Contohnya, ketika sebuah hubungan percintaan atau pertemanan dengan seseorang yang pernah kita anggap istimewa harus berakhir. Ga bisa disangkal, kita bisa dengan tiba-tiba memikirkan orang tersebut, atau mungkin menyesali hubungan yang telah berakhir tersebut.

Tapi ingat. Masa lalu udah lewat dan kejadian-kejadian di masa tersebut tidak mungkin diulang kembali. Waktu akan terus berjalan maju. Jadi, kalau dipikir-pikir, menyesali atau memikirkan maa lalu secara berlebihan emang ga ada gunanya sama sekali. Kesimpulannya, kita ngga perlu takut dengan masa lalu yang menghantui hidup kita, karena memang ngga ada yang perlu ditakuti.

Begitupun halnya dengan masa depan. Banyak orang yang sering meramalkan masa depan, tapi ga ada seorang pun di dunia ini yang bisa secara akurat 100% memberikan kepastian tentang kejadian yang akan terjadi di masa depan.

Contohnya, ramalan cuaca bisa memberikan prediksi tentang cuaca di hari-hari mendatang. Tetapi, seringkali cuaca sebenarnya ga sesuai dengan yang diramalkan. Begitupun juga dengan hidup seseorang yang diramalkan bernasib buruk, tetapi ternyata hidupnya menjadi sukses dan bahagia.

Ketidaksesuaian ramalan bukanlah disebabkan oleh kekuatan magis, tetapi kekuatan dari si manusia itu sendiri. Sama halnya dengan ramalan cuaca yang didasarkan atas perhitungan dan analisa dari iklim dan cuaca hari ini atau di masa lampau. Namun, realita sesungguhnya akan cuaca keesokan harinya ga bisa dipastikan 100%.

Seseorang yg hidupnya diramalkan bernasib buruk, bisa jadi sukses karena usaha gigihnya. Seusai diramal, dia bertekad untuk terus berusaha keras supaya hidupnya menjadi lebih baik dan tidak terpuruk. Dia pun berhasil dan ramalan tersebut jadi ga akurat.

Dari contoh di atas, bisa terlihat bahwa manusia cenderung takut dengan masa depan. Manusia sering berusaha untuk mengetahui kejadian di akan datang, tetapi manusia sering lupa dengan masa sekarang.
Gue juga demikian, yaitu sering melupakan masa sekarang. Gue sering lupa dengan momen-momen yang sedang gue jalani, bahkan mengabaikan orang-orang yang sedang berada di sekitar gue. Gue cenderung memikirkan masa lalu atau masa depan.

Berikut ilustrasi kecil untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya masa sekarang:
                                   
Contohnya, kalau besok hujan dan jalanan banjir, gue takut gue ga bisa menghadiri pesta pernikahan salah seorang teman. Gue takut kalau besok gue harus terpaksa berada di rumah dan ga bisa kemana-mana. Padahal, hari esok kan belum terjadi, tapi gue udah punya berbagai macam ketakutan di otak gue. Pada akhirnya, gue jadi mengabaikan saat ini, saat di mana tubuh dan jiwa gue seharusnya berada. Gue jadi ga fokus berbicara dengan orang di hadapan gue, atau bahkan malah jadi linglung dalam mengerjakan hal-hal kecil.

Memang, gue akui kalo ngga ada salahnya untuk mempersiapkan diri untuk masa depan. Tetapi, bukan berarti kita perlu menghabiskan waktu yang sekarang kita miliki hanya untuk persiapan masa yang belum jelas keadaannya. Karena, seringkali kejadian sebenarnya ga sesuai dengan kejadian yang udah kita ciptakan sendiri di dalam otak kita. Jadi, untuk apa waktu yang terus berputar dan tidak akan kembali ini, kita habiskan untuk memikirkan dan merencanakan masa depan yang belum pasti kejadiannya?

Jadi, teruslah berusaha untuk hidup di masa sekarang, saat ini juga, detik ini juga. Jangan mau terus terbuai oleh kecemasan masa lalu dan masa depan, karena ketika kita ingin menjadi manusia yang lebih baik dan terus maju, kita hanya bisa melakukannya saat ini, detik ini juga.