Hari Minggu adalah hari yang tepat untuk beribadah. Bahkan, di beberapa kitab suci disebutkan bahwa hari Minggu adalah hari istimewa bagi para umat beragama untuk menghadap Tuhan. Entah itu bener atau ngga, gue yakin ngga ada salahnya untuk melakukan kegiatan tersebut di hari Minggu. Bahkan mungkin, banyak manfaatnya.
Seperti hari Minggu kemaren, gue bersemangat untuk pergi beribadah untuk pertama kalinya di tanah air, kota kelahiran Jakarta, setelah beberapa tahun tinggal di negeri orang. Dan ternyata, hari itu memang jadi hari yang istimewa buat gue.
Disebutkan di dalam pembabaran agama pada ibadah hari ini, bahwa manusia pada umumnya sering mengalami kecemasan. Manusia sering merasa takut. Dan lebih parahnya lagi, tingkat ketakutan manusia bisa mencapai sepuluh tingkat, menurut si pembicara. Sebenernya gue ga yakin dengan sepuluh tingkat ketakutan yang disebutkan, tapi gue percaya kalo manusia memang sering, bahkan selalu merasa takut.
Contohnya, diri gue sendiri. Gue sering ngerasa takut dengan hidup. Takut kalau hidup gue ga akan selalu bahagia, takut kalau gue tiba-tiba terkena penyakit serius, takut kalau gue ga punya cukup uang untuk bertahan hidup, dan lain sebagainya.
Hal ini kemudian terkait erat dengan dua fase kehidupan, yang boleh disebutkan telah menjadi sumber ketakutan manusia, yaitu masa lalu dan masa depan.
Ya, percaya atau ngga, manusia sering takut dengan masa lalunya sendiri. Gue yakin, kita sering merasa dihantui oleh kejadian-kejadian lampau. Kita sering merasa menyesal, atau paling ngga, sering terlintas di pikiran kita peristiwa-peristiwa di masa lalu yang mungkin telah membuat kenangan yang cukup berkesan, entah itu baik atau buruk.
Contohnya, ketika sebuah hubungan percintaan atau pertemanan dengan seseorang yang pernah kita anggap istimewa harus berakhir. Ga bisa disangkal, kita bisa dengan tiba-tiba memikirkan orang tersebut, atau mungkin menyesali hubungan yang telah berakhir tersebut.
Tapi ingat. Masa lalu udah lewat dan kejadian-kejadian di masa tersebut tidak mungkin diulang kembali. Waktu akan terus berjalan maju. Jadi, kalau dipikir-pikir, menyesali atau memikirkan maa lalu secara berlebihan emang ga ada gunanya sama sekali. Kesimpulannya, kita ngga perlu takut dengan masa lalu yang menghantui hidup kita, karena memang ngga ada yang perlu ditakuti.
Begitupun halnya dengan masa depan. Banyak orang yang sering meramalkan masa depan, tapi ga ada seorang pun di dunia ini yang bisa secara akurat 100% memberikan kepastian tentang kejadian yang akan terjadi di masa depan.
Contohnya, ramalan cuaca bisa memberikan prediksi tentang cuaca di hari-hari mendatang. Tetapi, seringkali cuaca sebenarnya ga sesuai dengan yang diramalkan. Begitupun juga dengan hidup seseorang yang diramalkan bernasib buruk, tetapi ternyata hidupnya menjadi sukses dan bahagia.
Ketidaksesuaian ramalan bukanlah disebabkan oleh kekuatan magis, tetapi kekuatan dari si manusia itu sendiri. Sama halnya dengan ramalan cuaca yang didasarkan atas perhitungan dan analisa dari iklim dan cuaca hari ini atau di masa lampau. Namun, realita sesungguhnya akan cuaca keesokan harinya ga bisa dipastikan 100%.
Seseorang yg hidupnya diramalkan bernasib buruk, bisa jadi sukses karena usaha gigihnya. Seusai diramal, dia bertekad untuk terus berusaha keras supaya hidupnya menjadi lebih baik dan tidak terpuruk. Dia pun berhasil dan ramalan tersebut jadi ga akurat.
Dari contoh di atas, bisa terlihat bahwa manusia cenderung takut dengan masa depan. Manusia sering berusaha untuk mengetahui kejadian di akan datang, tetapi manusia sering lupa dengan masa sekarang.
Gue juga demikian, yaitu sering melupakan masa sekarang. Gue sering lupa dengan momen-momen yang sedang gue jalani, bahkan mengabaikan orang-orang yang sedang berada di sekitar gue. Gue cenderung memikirkan masa lalu atau masa depan.
Berikut ilustrasi kecil untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya masa sekarang:
Contohnya, kalau besok hujan dan jalanan banjir, gue takut gue ga bisa menghadiri pesta pernikahan salah seorang teman. Gue takut kalau besok gue harus terpaksa berada di rumah dan ga bisa kemana-mana. Padahal, hari esok kan belum terjadi, tapi gue udah punya berbagai macam ketakutan di otak gue. Pada akhirnya, gue jadi mengabaikan saat ini, saat di mana tubuh dan jiwa gue seharusnya berada. Gue jadi ga fokus berbicara dengan orang di hadapan gue, atau bahkan malah jadi linglung dalam mengerjakan hal-hal kecil.
Memang, gue akui kalo ngga ada salahnya untuk mempersiapkan diri untuk masa depan. Tetapi, bukan berarti kita perlu menghabiskan waktu yang sekarang kita miliki hanya untuk persiapan masa yang belum jelas keadaannya. Karena, seringkali kejadian sebenarnya ga sesuai dengan kejadian yang udah kita ciptakan sendiri di dalam otak kita. Jadi, untuk apa waktu yang terus berputar dan tidak akan kembali ini, kita habiskan untuk memikirkan dan merencanakan masa depan yang belum pasti kejadiannya?
Jadi, teruslah berusaha untuk hidup di masa sekarang, saat ini juga, detik ini juga. Jangan mau terus terbuai oleh kecemasan masa lalu dan masa depan, karena ketika kita ingin menjadi manusia yang lebih baik dan terus maju, kita hanya bisa melakukannya saat ini, detik ini juga.

No comments:
Post a Comment