25 May 2009

Poelang Kampoeng

Liburan gw ke Indo taon ini gw gunain buat 'mudik' ke kampung bonyok yang ada di satu pulau kecil yang bahkan ga smua penduduk Indo mengenal pulau ini, yaitu Bangka (seriously, wkt gw sebut Bangka, bbrp temen Indo gw msh smpet nanya 'Bangka tuh di mana y?', cape dehh...ketauan nilai geografinya pas2an, lol). Berikut cerita gw slama di Bangka (pura2nya lagi nulis laporan perjalanan kyk wartawan ato reporter tipi begitu.

Again, selamat membaca tulisan 'singkat' ini yg terdiri atas 14 halaman kertas A4 :)


Jejak Langkah Pertama di Bumi Sepintu Sedulang

Tepat pukul 5 pagi, saya dibangunkan untuk segera bersiap-siap berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Tepatnya, saya akan menuju ke Pulau Bangka, tanah kelahiran kedua orang tua saya. Tidak banyak yang tahu bahwa latar belakang keluarga saya adalah asli dari pulau timah tersebut. Mungkin karena sejak saya lahir, saya selalu berada di Jakarta dan jarang sekali pulang kampung alias mengunjungi Pulau Bangka. Bukan karena malu atau tidak suka pergi ke pulau kecil, tetapi papa kerap kali berkata bahwa di Bangka itu tidak ada apa-apa, paling-paling hutan bahkan mal pun tidak ada, begitu katanya.

Singkat cerita, dalam liburan saya kembali ke tanah air kali ini, saya telah bertekad untuk pergi ke sana. Selain berniat untuk berziarah ke makam oma yang baru meninggalkan kami tahun lalu, saya ingin sekali berjalan-jalan melihat keadaan pulau yang dulunya sempat berjaya dan kaya raya dengan timah dan lada sebagai sumber terbesar penghasilan pemerintah setempat.

Sekitar pukul 7 pagi, saya akhirnya ‘take off’ dengan Sriwijaya Air menuju ke pulau bersemboyan ‘Bumi Sepintu Sedulang’ tersebut. Sesaat sebelum mendarat di kota Pangkal Pinang, saya sempat melihat-lihat pulau Bangka dari jendela pesawat. Hampir sebagian besar pulau dilingkupi warna cokelat dan hijau, yang saya tebak sebagai bukit, hutan dan gunung. Setibanya di Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang, meskipun saat itu baru pukul setengah 9 pagi, tetapi keadaan bandara telah hiruk pikuk dipenuhi oleh para petugas bandara yang menawarkan jasa trolley, penjemput penumpang, calo tiket, penjual babi panggang, sopir angkutan umum, dan para penumpang itu sendiri. Rombongan keluarga kami pun menggunakan jasa mobil sewa yang untungnya, si empunya mobil telah siap di depan pintu bandara untuk menyerahkan mobilnya.

Segeralah mobil kami keluar bandara dan melintasi jalan-jalan kota Pangkal Pinang. Jalan-jalan terbesar, menurut pengamatan saya waktu itu, adalah Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Jenderal Soedirman, yang anggap saja seperti Jalan Jenderal Soedirman di Jakarta. Di sisi kiri kanan jalan dipenuhi ruko-ruko yang sedang dibangun; telah tersewa sebagai toko, bengkel, dealer mobil; atau terbengkalai alias tidak laku dijual atau disewakan.

Tapi, yang lebih menarik perhatian saya, banyak ruko atau rumah tinggal yang berada di sepanjang jalan yang mempunyai jumlah lantai lebih dari tiga. Kelihatannya rumah-rumah tersebut tinggi sekali, tapi jangan salah, itu hanyalah tipuan semata. Ternyata, menurut penjelasan papa, penduduk Bangka banyak yang memelihara burung walet. Bangunan tinggi yang berlubang-lubang kecil di bagian dindingnya, merupakan ‘rumah’ yang diharapkan dihinggapi oleh burung-burung tersebut. Jika burung walet mau bertandang dan meninggalkan air liurnya, itu tandanya si empunya rumah bisa jadi kaya raya.

Ya, air liurnya, atau kerap disebut sebagai sarang burung walet, memang sangat menjanjikan untuk dijadikan bisnis. Harga jualnya yang mencapai jutaan rupiah untuk satu kilogramnya saja dan banyaknya burung tersebut berkicau dan bertebaran di atas langit pulau Bangka, telah menarik perhatian penghuni pulau untuk menjalankan bisnis ini. Tapi jangan salah, burung-burung ini tidak sembarang bertandang ke rumah orang. Mereka bisa memilih dan mereka yang akan menentukan di manakah mereka akan meninggalkan air liurnya itu yang berharga baik dalam bentuk uang atau pun khasiatnya untuk kesehatan. Dapat dikatakan, penjualan sarang burung walet telah menjadi salah satu sumber penghasilan terbesar Pulau Bangka saat ini. Pemerintah pun tidak segan-segan mengenakan pajak yang cukup tinggi untuk bangunan-bangunan yang dijadikan rumah burung walet. Oleh karena itu, pemilik bangunan terpaksa mengubah tampak luar bangunannya seakan-akan menjadi bagian dari jumlah lantai rumah mereka.

Toboali, Kota Nanas di Ujung Pulau

Ternyata bangunan tinggi tersebut tidak hanya bisa ditemukan di kota besar seperti Pangkal Pinang. Hampir sebagian besar daerah yang sedang dikembangkan dengan cara membangun ruko untuk dijadikan tempat usaha, telah dihiasi dengan rumah burung walet. Salah satunya yaitu, Toboali, sebuah kota kecil kecamatan yang terletak di bagian selatan Pulau Bangka. Dibutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan dari Pangkal Pinang, dengan melalui jalan yang mulanya masih beraspal, dilanjutkan dengan sebagian besar jalan berlubang-lubang atau perbaikan jalan yang sedang diaspal. Di sisi jalan, tampak rumah-rumah kampung, yang tampak luarnya indah berlantai keramik, bahkan megah dihiasi pilar-pilar serupa warna marmer, tapi ketika melewati rumah tersebut, akan tampak bagian belakang rumah yang berdinding papan.

Sesampainya di kota Toboali, saya pun disambut dengan tugu Nanas yang terletak di bagian tengah persimpangan jalan. Tugu ini tampaknya merupakan simbol kota Toboali yang rupanya memang terkenal dengan nanasnya. Dan benar saja, di sini saya bisa mencicipi nanas yang benar-benar masak buahnya sehingga rasanya manis sekali seperti diberi pemanis buatan. Tapi tenang saja, rasa manisnya memang asli dari buahnya yang berwarna kuning kemerah-merahan.

Oh ya, saya lupa cerita kenapa saya bisa sampai rela terantuk-antuk atap mobil akibat jalan berlubang, hanya demi mengunjungi kota kecil di ujung pulau kecil ini. Karena di sinilah tempat kelahiran mama, tempat ia tumbuh besar sampai sekolah lanjutan tingkat pertama dan akhirnya pergi merantau ke ibu kota. Saya pun akhirnya berkunjung ke rumah om, kakaknya mama, yang notabene adalah rumah peninggalan orang tua mama. Rumah itu masih sama seperti kunjungan pertama saya ketika saya berumur 10 tahun. Setelah dua belas tahun, tidak ada perubahan yang mencolok; masih berdinding papan, berlantai semen, sumur timba terletak di halaman samping dan kandang ayam di halaman belakang rumah.

Meskipun kelihatannya seperti rumah kampung, tapi ada perasaan ganjil yang tiba-tiba muncul ketika saya mulai duduk-duduk di bangku panjang kayu jati yang menghadap ke halaman samping rumah. Pemandangan halaman berbatu kerikil dan siput-siput kecil yang berserakan, sapu lidi, ember hitam, pohon jeruk kunci, sumur timba, dan tembok semen yang menjulang tinggi membatasi rumah dengan bangunan sarang walet di sebelah, telah menciptakan suasana tenang dan damai di hati. Rasanya saat itu, hidup saya tidak memerlukan yang namanya teknologi canggih, seperti handphone atau internet. Tidak perlu stres karena belum punya Blackberry, belum punya rumah sendiri, atau belum cek email yang mana tau ada email penting dari klien. Pokoknya, waktu singkat yang saya gunakan hanya untuk duduk-duduk di bangku kayu itu menjadi terasa bermakna akibat ketenangan hati dan pikiran yang tiba-tiba muncul.

Bangunan milik tetangga yang temboknya berlubang-lubang untuk mengundang burung walet masuk


Pempek Kanji dan Bakmi Ikan, “Mak Nyos!”

Tidak lupa juga dengan makanan khas Toboali. Kalau di Palembang, pempek kapal selamnya yang populer bak bintang Hollywood itu, terbuat dari sagu dan ikan tenggiri, di Toboali, pempek hanya terbuat dari kanji atau tepung sagu. Bentuknya memanjang seperti persegi panjang, dan kalau dimakan, rasanya liat sekali, seperti makan tepung sagu yang lengket alias kanji. Tapi, jangan salah, pempek ini akan terasa enak jika dicelupkan ke dalam kuah cuka. Kuah cuka yang dimaksud di sini adalah cabe dan bawang putih yang ditumbuk halus, diberi jeruk kunci atau jeruk limo, gula, sedikit cuka, lalu dicampur dengan sedikit air sampai berkuah. Rasanya, menurut saya yang keturunan Bangka asli, “mak nyos!”. Ada juga pempek yang warnanya oranye karena terbuat dari udang.

Pempek Kanji dari Toboali

Selain itu, ada yang namanya Bakmi Ikan. Biasanya orang Jakarta atau orang Jawa suka makan Bakmi Ayam, atau terkadang dicampur dengan daging babi. Tapi, kalau di Toboali, bakmi barulah enak kalau dicampur dengan kuah ikan yang terbuat dari daging ikan yang disisirkan dari tulangnya dan dihaluskan, kemudian direbus bersama bumbu-bumbu halus sebagai penambah rasa. Dan jangan khawatir, bakmi ikan tidak berbau amis sama sekali dan rasanya masih tetap “mantapp!”.

Bangka, Replika Kisah Laskar Pelangi

Keseluruhan pemandangan rumah kampung tersebut benar-benar mengingatkan saya akan Laskar Pelangi, sebuah novel karya anak bangsa yang berlatar belakang kehidupan orang Melayu miskin di pulau Belitong, yaitu tetangga dan juga ‘partner’ pulau Bangka yang menjadikan mereka sebuah Propinsi BaBel (Bangka & Belitung). Gambaran kehidupan masyarakat Belitong, baik jalan-jalannya, pasarnya, sampai rumah-rumah penduduknya nyaris persis sama dengan kehidupan pulau Bangka. Saya sebagai pencinta buku ‘Laskar Pelangi’ dan juga pengagum berat Andrea Hirata akan perjuangan hidupnya, jadi bisa membayangkan dengan jelas kisah hidup beliau yang deskriptif diceritakan di dalam bukunya. Hampir setiap kunjungan saya ke suatu tempat, pemandangan kanan-kiri yang tampak dari mobil seperti rumah-rumah kampung yang dikelilingi hutan atau padang rumput di sekitarnya, atau berbagai peristiwa yang sedang terjadi di sekitar pasar, semuanya mengingatkan saya akan kisah Laskar Pelangi. Saya merasa telah menjadi bagian dalam kisah tersebut, menjadi salah satu tokoh figuran yang seyogyanya tidak penting untuk dimasukkan ke dalam cerita, tapi tetap hadir di dalam setiap kejadian.

Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

Salah satu peristiwa yang masih sangat melekat berada di dalam pikiran saya, yaitu ketika saya mengunjungi Belinyu yang terletak di bagian utara pulau Bangka, di sebelah timur Selat Malaka. Waktu itu, papa mengajak kami untuk bersantap siang di sebuah rumah makan yang khas dengan sate babinya yang menurut kabar teman-temannya, rasanya enak bukan main. Tapi anehnya, rumah makan itu tidak terletak di sebuah jalan besar, melainkan di rumah pemilik itu sendiri yang terletak di ujung gang kecil, nyaris di pelosok hutan, dikelilingi dengan pohon-pohon dan rumput-rumput tinggi. Singkat kata, rumah itu seperti berada di tengah-tengah hutan. Sebenarnya, dari jauh, rumah itu tidak seperti rumah makan, karena di samping rumah hanya dijejerkan beberapa meja persegi panjang dikelilingi kursi-kursi kayu panjang di sisi-sisi setiap meja. Uniknya lagi, rumah makan sederhana itu masih menggunakan kayu bakar untuk memasak, tahu kan, yang apinya masih perlu ditiup menggunakan sebilah kayu yang berbentuk pipa corong dan orang harus meniup-niup apinya supaya menyala.

Tentu saja, untuk membakar satenya, rasanya kurang pas kalau tidak memakai kipas berpola saling-silang dengan arang di bawahnya terus-terusan menyala dan padam silih berganti. Selain itu, ada satu makanan khas lain asal Belinyu, namanya Selada. Dalam bayangan saya, Selada adalah sayuran selada dalam arti harfiah, tetapi ternyata Selada itu menyerupai Gado-Gado, sayur-sayuran segar yang diberi bumbu kacang. Kurang lebih begitu tampak luarnya, tetapi rasanya entah kenapa, jauh lebih enak daripada gado-gado biasa. Saya jadi semakin yakin dengan konsep makanan desa yang diasumsikan lebih enak daripada makanan yang tersaji di kota-kota besar. Jadi, untuk sate babi dan selada khas Belinyu, rasanya saya setuju dengan konsep itu.

Nah, setelah makan kenyang, seperti biasa jika orang Indonesia sedang bepergian jauh, rasanya kurang lengkap kalau belum pergi ke kamar kecil sebelum masuk kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. Berhubung rumah makan itu sebenarnya rumah pemilik itu sendiri, kami terpaksa minta ijin si pemilik untuk meminjam toilet yang terletak di sisi rumah yang lain. Tiba-tiba kakak ipar saya berteriak, katanya dia menemukan sebuah sumur yang airnya jernih sekali. Saya pun penasaran, kenapa dia sampai harus berteriak hanya karena sebuah sumur. Ternyata memang benar, air di dalam sumur itu jernih sekali, bening, nyaris seperti kaca karena saya bisa melihat bayangan saya sendiri cukup jelas di dalam sumur itu. Lalu tiba-tiba ada sebuah bunyi sirene yang nyaring dan panjang menghentakkan daun telinga. Si pemilik rumah makan itu kemudian menjelaskan kepada kami bahwa itu adalah sirene dari perusahaan timah menandakan jam istirahat siang untuk para pekerja.

PERSIS!

Pikiran saya langsung meloncat ke dalam cerita Laskar Pelangi. Persis di dalam kisah itu, sirene itu digambarkan secara jelas bagaimana dan kapan ia harus dibunyikan oleh perusahaan timah. Awalnya saya pikir, cerita itu hanyalah kisah yang menggambarkan kehidupan para pekerja timah di masa 70 atau 80an, ketika perusahaan timah sedang jaya-jayanya. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa sirene itu masih ada, pendulang timah masih ada, dan mungkin perusahaan timah itu sebenarnya masih beroperasi meskipun kejayaannya telah padam ditelan waktu.

Undescribable…

Itulah perasaan saya yang bisa saya gambarkan ketika saya berdiri mematung sambil masih mendengarkan sirene panjang perusahaan timah, bergaung terus di daun telinga yang akhirnya disalurkan ke saraf otak yang memutar kembali memori saya tentang cerita Laskar Pelangi yang seakan-akan sedang diputar ‘live’ di hadapan saya saat itu.

Gua Maria, Bunda Pelindung Segala Bangsa

Yah, sebenarnya memang sirene itu tidak istimewa sama sekali. Mungkin karena sedang dipengaruhi oleh kekaguman saya akan kisah nyata Laskar Pelangi, saya menjadi terbawa suasana dan ada perasaan ganjil yang tiba-tiba muncul. Akan tetapi, Belinyu sebenarnya juga memiliki keistimewaan tersendiri yang telah menarik perhatian warga kota besar seperti Jakarta, Bandung, dll untuk mampir ke kota kecil itu. Dikarenakan adanya sebuah Gua Maria terletak di kota Belinyu yang didirikan di atas Bukit Mo Thian Liang, artinya bukit menggapai langit. Ketika saya menemani kakak dan kakak ipar berdoa di dalam Gua Maria, saya dan orang tua saya sempat berbincang-bincang dengan seorang penjaga gua tersebut. Ia bercerita asal muasal dibangunnya gua ini yang diawali oleh mimpi dari pastur Marcel Arnould, seorang pastur Perancis yang dulu tinggal di sana. Di dalam mimpi si pastur yang terjadi tiga kali, beliau ditugaskan untuk menemukan sebongkah batu di atas bukit, yang bentuknya akan menyerupai sebuah tangan yang saling menelungkup, layaknya tangan orang yang sedang berdoa di atas altar.

Tanah bukit itu sendiri sebenarnya dimiliki oleh seorang penduduk Muslim yang diwarisi kakek leluhurnya. Konon, sesuai dengan petuah kakeknya, tanah itu tidak boleh dijual oleh siapa pun untuk keperluan komersial, tapi hendaknyalah tanah itu digunakan untuk kepentingan yang bersifat agamawi, seperti membangun tempat ibadah. Maka dari itu, ketika gereja setempat menceritakan maksud dari membeli tanah bukit tersebut, si pemilik pun langsung setuju untuk menjualnya, bahkan dengan harga miring. Dan ternyata benar saja, telah ditemukan sebuah gundukan batu yang menyerupai jari-jari tangan manusia yang sedang berdoa di depan altar, yang letaknya sekarang berada di depan Gua Maria di antara undakan-undakan batu yang dihiasi rumput-rumput sulur. Batu itulah simbol dari kebenaran mimpi si pastur, yang mungkin mengandung makna yang sifatnya lebih krusial, sehingga gua Maria itu pun dinamakan sebagai “Gua Maria Bunda Pelindung Segala Bangsa”.

Parai dan Pasir Padi, Kecantikan dari Pulau Timah

Ada satu lagi keindahan yang ditawarkan pulau Bangka, yakni pantai-pantainya dengan pasir putih halus dan batu-batu karang berserakan yang mengelilingi pulau tersebut. Hampir di setiap daerah kecamatan memiliki sebuah pantai yang bermuara ke selat Bangka, selat Karimata atau jenis-jenis perairan lainnya. Beberapa di antaranya yang cukup terkenal di kalangan para wisatawan adalah pantai Pasir Padi yang terletak dekat dengan ibu kota Pangkal Pinang dan Parai yang berada di kawasan Sungaliat. Sayangnya, hujan turun sangat deras ketika saya mengunjungi Parai. Saya jadi tidak bisa mengelilingi pantai dengan leluasa karena harus menghindari jalan yang becek sambil memegangi payung. Tapi, ketika hujan telah reda dan akhirnya langit terang kembali, saat itu saya seakan-akan melihat salah satu anugerah dari Tuhan yang paling indah yang diberikanNya kepada manusia di bumi. Karena Dia telah menciptakan pantai yang indah sekali dihias dengan bebatuan karang hitam dan lekat mengilap yang berserakan di antara pasir putih halus yang masih basah, namun tampak berkilauan indah ditimpa sinar matahari sore.

Parai, selepas diguyur hujan deras

Terlebih lagi, sejauh mata memandang, saya bisa melihat keindahan lautan biru yang menyatu dengan kaki langit yang juga biru, menawarkan kepada saya saat itu, sebuah lukisan seorang Maestro akan sebuah pemandangan pantai di sore hari. Tidak lupa di sepanjang lautan, tampak beberapa gundukan kecil berwarna hitam yang merepresentasikan gambaran kapal-kapal pendulang timah. Kapal-kapal tersebut juga saya temukan di pantai Pasir Padi. Waktu itu, air laut sedang surut, sehingga tampak sebagian pantai menjadi kering dan lautan tampak terlihat seperti genangan air hujan yang membuat jalanan becek di sana-sini. Gambaran tepatnya, garis pantai yang seyogyanya digambarkan lurus horizontal membatasi daratan dengan lautan, kali ini terlihat menjadi ‘zig-zag’ di sepanjang laut, seakan-akan membentuk sebuah jalan menuju ke tengah laut. Bahkan waktu itu, saya cukup tertarik untuk mencoba berjalan di bagian laut yang kering itu, ingin tahu keadaan di tengah laut. Entahlah, mungkin itu hanya sebuah fatamorgana dan saya juga jadi ciut waktu mama mengingatkan saya akan peristiwa Tsunami yang terjadi di Aceh 5 tahun silam. Dan kalau ke pantai, rasanya kurang pas kalau tidak melihat atau iseng-iseng mengumpulkan siput dan kerang yang berserakan di sekitar pantai. Ada juga ubur-ubur yang tampaknya mati kekeringan karena terdampar di pantai. Tebakan saya, ubur-ubur itu terbawa arus ombak yang menghantam daratan dan terdampar di pantai karena hilangnya tekanan air yang menarik binatang laut itu kembali ke dalam air. Waktu itu pertama kalinya saya melihat ubur-ubur secara langsung. Keseluruhan tubuhnya mirip tubuh alien, berkepala besar dan berbadan kecil kurus panjang sampai ke kaki. Kasihan sekali, binatang laut yang bertubuh jelly itu harus mati terdampar.. Saya tidak bisa membayangkan rasanya jika saya harus makan binatang laut itu, khususnya setelah melihatnya secara langsung.

Mission Accomplished: Menemukan Akar Terakhir dari Pohon Keluarga

Hari terakhir saya di pulau timah ini akhirnya saya gunakan untuk mengunjungi suatu tempat yang sebenarnya menjadi tujuan utama dalam perjalanan ini, yaitu makam oma. Beliau telah menutup akhir tahun lalu dengan kepergiannya setelah sakit bertahun-tahun, bahkan hanya bisa tidur di ranjang selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Kepergian oma yang merupakan mama dari papa saya, cukup melekat dalam pikiran saya, yang meskipun saya tidak berada di tanah air saat itu, tapi kepergiannya telah menjadi pamungkas dalam hidup saya untuk bisa memanggil oma atau opa. Dengan kata lain, beliau dulunya adalah satu-satunya grandparents saya yang tersisa, dan kali ini, saya telah kehilangan semuanya.

Pagi-pagi sekali, saya sekeluarga pergi ke tempat pemakaman yang letaknya ternyata dekat sekali dengan rumah saudara saya. Rasanya tidak lebih dari 500 meter, tepatnya di sepanjang gang kecil di sisi kanan Jalan Jenderal Soedirman (kalau tidak salah ingat, tapi yang pasti jalanan itu masih jalan besar). Kurang lebih 100 meter dari gerbang gang, tampaklah pemandangan batu-batu nisan berkeramik yang mengilap terkena silau matahari, berjejer-jejer dengan rapi di sepanjang daratan yang melandai ke hamparan bukit di sekitarnya. Jumlah nisan yang ada mungkin bisa mencapai ribuan, karena saking banyaknya, orang tua saya jadi lupa jalan mana yang harus ditempuh untuk mencapai nisan oma-opa. Dan jujur saja, kami sempat tersesat dua kali mengelilingi blok-blok batu nisan yang tidak bernama dan tidak ada palang sama sekali. Moral ceritanya, kalau ingin berziarah, mungkin sebaiknya arah jalan menuju batu nisan harus digambar atau ditulis di suatu kertas dan disimpan baik-baik.

Singkat cerita, setelah berhasil menemukan makam oma-opa, saya melakukan doa layaknya orang yang berziarah. Tidak perlu saya jelaskan di sini perasaan saya waktu itu, karena sekuat-kuatnya saya ketika mendengar berita duka itu sampai akhirnya sepenuhnya rela melepaskan kepergiannya, tidak bisa dielakkan perasaan sedih yang tiba-tiba menyemburat ketika saya melihat makam oma dan berdoa di depannya. Meskipun saya tidak dekat dengan beliau, tapi beliau pernah tinggal di rumah saya selama beberapa tahun. Hal-hal kecil yang terjadi di rumah ternyata menjadi kenangan manis dan cukup mengesankan. Masih sangat lekat dalam ingatan saya, ketika saya pamit untuk berangkat kembali ke Sydney tahun lalu, beliau bertanya, kenapa saya berangkat ke bandara lebih awal dari biasanya. Maksudnya, beliau ingat jam berapa saya biasanya pergi ke bandara, yaitu jam 6 sore, dan waktu itu, saya pamit dengannya pada jam 3 sore. Tak disangka-sangka, itulah pamit terakhir saya dengan beliau.

Souvenir Terakhir dari Bumi Serumpun Sebalai

Sisa waktu hari itu, sebelum berangkat ke Jakarta sore harinya, saya habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar kota Pangkal Pinang. Di kota ini, ada yang namanya Gang Singapura, yang kata papa, seperti daerah Glodok di Jakarta atau China Town di Sydney. Selain itu, kami juga berkeliling kota untuk mencari makanan khas Bangka, seperti Bakmi Bangka. Berbeda dengan bakmi Bangka yang kerap dijual di Jakarta, bakmi ini ada dua jenis, yaitu bakmi kering atau berkuah. Bakmi berkuah maksudnya bakminya akan dicampur dengan kuah, seperti kalau sedang makan Indomie. Kalau bakmi kering, artinya bakminya tidak akan disajikan dengan kuah, melainkan bakminya akan diaduk dengan bumbu yang telah dicampur, seperti kecap, minyak babi dan minyak bawang. Jadi bakminya tidak akan kering seperti Indomie goreng, tapi akan sedikit berkuah bumbu yang meresap ke dalam bakmi.

Selain itu, ada juga Tofu Kok, kuah bakso ikan dilengkapi dengan daging ikan yang dibungkus dengan kulit tahu (kalau tidak salah, sebutannya ‘fu jian’) dan bakso yang terbuat dari daging babi. Kuah ini akan menjadi tambah lezat jika baksonya dimakan dengan sambel tauco ala Bangka (kurang lebih seperti sambel ‘cuka’ yang ditambah dengan tauco). Ada juga Nasi Cap Cay yang berbeda dengan nasi cap-cay biasa yang ada di Jakarta. Cap-caynya cukup istimewa, karena dimasak dengan saus tomat dan kecap manis, sehingga rasanya lebih ‘medok’. Kalau cap cay sering diasosiasikan dengan macam-macam sayuran yang ditumis, di Bangka, berbagai jenis daging juga ikut dimasak di dalam cap cay, seperti udang, bakso ikan, udang, dll. Belum lagi ditambah berbagai jenis kerupuk yang kerap menjadi oleh-oleh makanan khas Bangka. Ada kerupuk panggang, kerupuk ikan yang rasa ikannya ‘kental’ terasa, getas (terbuat dari tepung dan daging ikan, bentuknya bulat-bulat seperti bola kecil-kecil), kerupuk panggang yang digoreng pasir (saya tebak, mungkin kerupuknya digoreng dengan pasir, meskipun rasanya tidak mungkin), dan berbagai binatang laut yang telah dikeringkan, seperti juhi, gelembung ikan, cacing laut, dll.

Akhirnya, saya pun harus mengakhiri 3 hari perjalanan saya di pulau timah ini. Saya yakin, begitu banyak kenangan yang akan terus melekat di pikiran saya, karena di pulau inilah, kakek saya pertama kali menginjakkan kaki ke bumi Nusantara dan akhirnya meneruskan klan keluarganya yang masih berada di daratan Cina. Di sinilah, tersimpan begitu banyak cerita dan kenangan akan kehidupan beberapa generasi keluarga saya, baik dari papa ataupun mama. Dan di sinilah, bersemayam ‘akar’ dan ‘ujung pangkal’ darah keturunan Tionghoa Hokkian dan Tionghoa Khek yang menyatu di dalam aliran darah saya.

Bangka, layaknya bumi pertiwi bagi keluarga kami dan menjadi tanah air saya yang sebenarnya, rasanya tak akan pernah saya lupakan di sepanjang hidup saya. Selamat tinggal, Bumi Serumpun Sebalai. Lain waktu, saya berjanji akan menjejakkan kaki kembali ke daratanmu.

No comments:

Post a Comment