Kali ini gw mo share sedikit ttg Buddhism. Gw sendiri adalah seorang Buddhist yg taun kemaren baru di'tahbiskan' sebagai penganut agama Buddha. Why Buddhism? Well, I might share a bit about it then you can have your own thought later on.
Dikatakan bahwa Buddhism sebenernya bukan cuma sebuah agama, tetapi beyond the definition of religion. Sering juga Buddhism dianggap sebagai suatu pengajaran dan filosofi hidup. Seperti di sekolah, kita sebagai murid diajar oleh seorang guru. Di dalam Buddhism sendiri, Siddhartha Gautama adalah sang guru besar yg ajarannya diikuti oleh orang banyak yg percaya dgn ajarannya. Lalu, apa sih ajaranNya sampai bisa dianggap sebagai salah satu agama di dunia?
Tadi gw sebut Buddhism sering dianggap sebagai sebuah filosofi hidup. Dalam pengertian gw pribadi, gw cukup setuju akan hal itu. Menurut gw, Buddhism mengajarkan kita tentang hidup, bagaimana menjalani hidup sehingga kita bisa mencapai tujuan hidup. Sering denger kan kalo kita sebagai manusia punya tujuan hidup? Generally speaking, setiap manusia pasti pengen hidup yg bahagia. Dalam Buddhism, we are guided to achieve the true happiness of our lives. Why happiness? Karena realitanya, hidup manusia itu penuh dengan penderitaan ("Life is suffering"). Contohnya, kita akan merasa sedih kalau keinginan kita ga terpenuhi; kalau kita ngerasa ga cukup dpt kasih syg dr orang tua, saudara, teman, kekasih, atau org2 lain di sekitar kita; kita akan ngerasa kesusahan kalau sedang ada bencana banjir, kebakaran, kriminalitas, dll. Jadi, bisa dikatakan, hidup manusia sering didominasi oleh penderitaan dalam berbagai bentuk.
Selain itu, kita sering kali menderita karena ada rasa kemelekatan (attachment) di dalam diri kita. Misalnya, kita hepi bgt karena baru pny HP baru. Tiba2 beberapa minggu kemudian, HPnya ketinggalan di bus trs kita jadi sedih banget. Nah, rasa sedih kita itu tergantung seberapa 'lekat'nya kita sama HP itu. Kalau waktu kita pny HP itu kita ngerasa sayang bgt ama tuh HP (i.e.: dilap tiap hr, dikasih sarung yg mahal, dll), pasti kita bakal sedih banget. Itu yg namanya kemelekatan, artinya, kita udah melekat ama barang itu. Tapi, kalau kita tidak merasa melekat dgn barang tersebut, kita pasti ga akan sesedih yg digambarkan dgn skenario pertama. Coba kalau HP yg ketinggalan itu bukan punya kita, punya temen kita misalnya, pasti kita ga bakal sedih2 bgt soalnya tidak ada rasa kemelekatan dgn barang yg hilang tersebut.
Di sinilah Buddhism mengajarkan kita untuk bisa mengatasi penderitaan2 tersebut seperti yang tertulis di dalam Dhamma, ajaran Sang Buddha. Kita seyogyanya bisa mengerti bahwa di balik penderitaan2 tersebut, pasti ada sebab penyebabnya, yg kerap disebut Cause and Condition theory. Bukan cuma penderitaan, tapi juga kebahagiaan, semua hal terjadi karena ada sebabnya. Misalnya, kita senang karena kita bisa makan enak, bisa beli baju baru yang bagus, punya mobil mewah, dll. Kondisi kita yang bisa mendapatkan apa yg kita mau tersebut, sebenernya adalah hasil dari perbuatan2 baik kita di masa lampau, atau seringkali dikenal dgn istilah Karma. Simplenya, hukum karma menyebutkan bahwa apa yang kita tanam atau kita perbuat, kita juga yg akan mendapatkan hasilnya. Jadi, kalau kita berbuat baik, kita bakal dpt 'buah' yg baik, tapi kalau kita berbuat yg ga baik, kita juga yg akan dpt hasilnya.
Sering dikatakan bahwa apapun yang kita dapat di dunia ini adalah hasil dr perbuatan kita sendiri dari masa lampau atau masa sebelum kita lahir ke dunia yg sekarang. Trs, pertanyaan yg sering muncul, "gimana donk ngatasin karma buruk yg bakal saya dpt, pdhal saya kan ga tau kl saya dulu itu pernah ngapain aja?" Nah, ada suatu cerita pendek yg cukup menarik buat gw pribadi. Anggep aja, karma buruk itu adalah garam dan karma baik itu adalah air. Pastinya, kita sedikit banyak pernah berbuat baik, berarti kita bisa mengumpulkan sejumlah air, anggep aja kurang lebih satu gelas air. Kemudian, kita juga pny karma buruk alias garam yg akibatnya air yg kita punya jadi asin (rasa asinnya tergantung besarnya karma buruk). Jadi, supaya rasa asinnya ilang, kita tuang air terus menerus sampe rasanya ga kentara lagi. Rasa asin itu akan tetap ada, tapi kadarnya bisa kita kurangi. Nah, maksudnya di sini, supaya kita bisa mengurangi efek dr karma buruk (karena kita pasti bakal tetep dpt karma buruk itu), kita hendaknya terus menerus berbuat baik.
Nah, sampai di sini, gw pgn buat sedikit refleksi ttg Buddhism. Dari beberapa ajaran Buddhism yg gw sebut di atas, gw pribadi ngerasa bahwa semuanya itu sebenernya cukup rasional dan realistic dlm hidup. Seperti hukum Karma yg dianggap sebagai nature law karena mau ga mau, suka ga suka, apa yang kita perbuat, kita akan menanggung akibatnya. Atau juga pengertian "life is suffering", mau ga mau, suka ga suka, hidup kita itu memang penuh sengsara yg buktinya suka buat kita bete, sedih, nangis, tapi di sisi lain, bisa buat kita senang, ketawa, excited, dll. Nah, dengan mengikuti ajaran2 Buddhism yaitu Dhamma, kita bisa menghadapi semua realita tersebut dgn baik sampai kita bisa dapetin yg namanya 'true happiness'. Siapa juga sih yg ga mau bahagia?
Ok deh, lain waktu, gw lanjutin lagi sharingnya :)
No comments:
Post a Comment